Membangun Jati Diri Murah Hati

Posted on June 17, 2010

0


Membangun Jati Diri Murah Hati

“Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk 6:36)

Salah satu kata yang penting dalam tema ini adalah belas kasihan, kasih sayang dan murah hati. Kata murah hati menekankan ekspressi dari emosi itu sendiri berhubungan dengan penderitaan, kesedihan atau ratapan, artinya menjadi empathy di dalam nuansa perkabungan dan kesedihan, yang mengandung makna ‘bersedia untuk menolong’.
Di dalam PB kata kerja murah hati ditemukan dalam Rm 9:15 "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." Sebagai kutipan dari Keluaran 33:19. Kata ini digunakan untuk mendeskripsikan kemurahan dan kasih karunia Allah kepada mereka yang tidak taat (Rom 11:30,32). Lebih dalam istilahbelas kasihan digunakan untuk memperlihatkan sifat Allah Bapa ( 2 Kor 1:3) dan secara tersirat pada orang percaya (Plp 2:1). Secara khusus dalam Kol 3:12, kata belas kasihan disejajarkan dengan kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Kata-kata tersebut lebih menekankan artinya pada sifat, karakter, integritas atau jati diri. Di dalam Lukas kata murah hati atau belas kasihan dikenakan kepada pengikut Yesus dan untuk Allah: Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. (Lukas 6:36). Pemergunaan kata ini sebagai sifat Allah dan juga sebagai sifat pengikut Yesus yang lebih menekankan pada motivasi tindakannya dari pada nilainya.
I. Tema dalam Konteksnya
Judul dari perikope Luk 6:27-36, tempat tema ini disebut “Kasihilah Musuhmu”, dalam Bahasa Inggris “Love for Enemis” dalam terjemahan NIV. Judul ini diambil dari ay. 27 dan ay 35 dari Luk 6:27-36. Judul ini dibuat sebagai penekakan akan makna yang khusus dari kehidupan pendengar Yesus melebihi komunitas dunia ini. Sayangnya judul ini seringkali mengurangi makna dan pesan utama yang lebih luas dari perikop ini, sebagaimana saya akan uraikan dalam makalah ini. Perikope ini diikuti dengan topik “hal menghakimi” yang menekankan kesadaran diri untuk menjadi hakim atas diri sendiri. Kemudian dilanjutkan dengan perumpamaan tentang pohon dan buahnya (Luk 6:43-45) yang menekankan bahwa kwalitas hidup manusia terlihat dari perbuatannya. Ketiga perikope ini berbicara tentang “kepribadian atau jati diri” para pengikut Yesus. Sama seperti Matius bahwa Lukas juga menutup tuturan khotbah di bukit dengan kwalitas pengikut Yesus ada pada “mendengar dan melakukan” Firman Allah (Mat 7:24-27; Luk 6:46-49).
· Membangun jati diri dalam aspek kemanusiaan
Sebagai bagian dari khotbah di bukit dalam uraian Lukas (uraian yang lebih systematis dan panjang lebar ditemukan dalam Matius pasal 5-7), dalam perikope ini, Yesus mau menekankan bagaimana seharusnya kehidupan orang yang mendengarNya secara khusus murid-muridNya. Ada tujuh hal yang diminta Yesus untuk dilakukan berhadapan dengan orang lain:
1. Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang memusuhi kamu
2. Mintalah berkat bagi orang yang mengutuki kamu
3. Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu
4. Barang siapa menampar pipimu yang satu berilah juga kepadanya pipimu yang lain
5. Barang siapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu
6. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu
7. Jangan meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu
Pokok yang terutama dalam uraian ini adalah humin (kamu) yaitu para pendengar Yesus, khususnya murid-muridnya. Orientasi utama untuk memahami nats ini adalah “pengikut Yesus”. Haruslah dilihat bahwa perintah ini dilakukan untuk membangun kehidupan para pendengar Yesus. Orang yang memusuhi, membenci, mengutuk, mencaci, menampar, mengambil, meminta bukanlah hal yang utama dalam pengajaran ini. Perintah ini bukan berbicara tentang kehidupan komunitas di luar para Murid Yesus, melainkan berbicara tentang sikap hidup Murid itu sendiri.
Ketujuh sikap di atas menekankan kepribadian, integritas atau jati diri para pendengar Yesus yang bebas dari hukum pembalasan. Sudah ternyata bahwa hukum pembalasan menjadi legitimasi terhadap perbuatan jahat sebagai hal yang legal dilakukan. Cacian yang di balas dengan cacian membuat cacian menjadi sesuatu yang sah untuk dilakukan. Perintah Yesus ini tidak boleh dilihat pertama-tama sebagai reaksi terhadap apa yang dilakukan orang lain. Bila perbuatan-perbuatan jahat orang lain dibuat menjadi motivasi untuk bertindak maka yang terjadi adalah reaksi yang justru sedang ditentang oleh Yesus. Ada atau tidak ada perbuatan jahat, para pendengar Yesus harus hidup di dalam kasih, berkat, doa, kerelaan dan memberi. Itulah sebabnya uraian ini disimpulkan dengan statement yang membangun diri para pendengar Yesus yang dikenal dengan istilah the golden rule:
“Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka”(ay 31, Mat 7:12)
Hukum ini memperlihatkan bahwa motivasi berbuat sesuatu bukan reaksi atas perbuatan orang lain, tetapi didasarkan pada kehendak akan hal yang akan dilakukan orang lain pada diri sendiri. Maka motivasinya adalah dari diri sendiri. Hukum ini sekaligus memperlihatkan betapa setiap orang mempunyai potensi untuk melakukan hal-hal yang benar dan baik. Motivasi dasar dalam setiap tindakan berhadapan dengan orang lain, sekarang tidak didasarkan pada apa yang diperbuat orang melainkan pada apa yang dikehendaki untuk diperbuat orang lain kepadanya. Dengan kata lain, hidup para pendengar Yesus bukan reaksi tetapi proaksi (bukan reaktif tetapi proaktif).
Proaksi kasih, berbuat baik, minta berkat, berdoa, kuat menanggung kekerasan, rela memberi dan tidak menuntut balas jasa (selanjutnya akan disingkat dengan proaksi kasih) adalah bagian dari pembangun karakter hidup orang percaya. Perlu dicatat bahwa proaksi kasih menggantikan hukum pembalasan tidak dalam rangka membiarkan kekerasan atau penindasan berlangsung, tetapi sebaliknya mau menekankan agar perbuatan jahat tidak dilegitimasi menjadi perbuatan yang sah dengan metode pembalasan. Justru proaksi kasih ini menuju pada pengubahan orang jahat menjadi baik. Proaksi kasih juga tidak boleh dilihat berhadapan dengan perbuatan permusuhan, pengutukan, kekerasan, pemerasan tetapi berhadapan dengan manusianya yaitu orang yang memusuhinya, orang yang mengutukinya, orang yang menamparnya, orang yang mengambil jubahnya, orang yang meminta padanya, orang yang mengambil kepunyaanya. Proaksi diwujudkan berhubungan dengan manusianya bukan dengan perbuatannya. Orientasi manusia adalah dasar dari seluruh perbuatan proaksi.
· Membangun jati diri dalam aspek sorgawi
Selanjutnya Yesus menjelaskan alasan mengapa para pendengarnya harus berbuat demikian. Ada dua alasan yang diajukan:
Alasan pertama: Hidup lebih baik. (ay 34)
“Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu apakah jasamu?
Karena- orang-orang berdosa pun mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka.” Dan jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang lain, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.”
Yesus membandingkan muridNya dengan orang-orang berdosa. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Yesus menghendaki para pendengarnya hidup lebih baik dari orang-orang berdosa. Perbedaan kehidupan ini dapat dilihat dari apa yang dilakukan oleh orang percaya terhadap orang lain. Pengajaran ini menyangkut kwalitas hidup para pendengar Yesus. Kwalitas hidup orang percaya tidak hanya terletak pada apa yang dilakukan kepada orang yang mengasihinya tetapi justru pada orang yang tidak mengasihinya. Kwalitas itu terwujud dalam kemampuan diri untuk berbuat baik pada semua orang. Potensi kemanusiaan untuk berbuat baik sebagaimana diuraikan dalam ay 31 adalah membangun kwalitas diri sebagai orang percaya. Kehidupan yang lebih baik itu akan terasa makna dan artinya ketika murid-murid Yesus hidup di dalam dan bersama dengan masyarakatnya. Dalam hal inilah fungsi jati diri yang lain yaitu “garam dunia” (Mat 5:13) dan “terang dunia” (Mat 5:14) menjadi nyata.
Alasan kedua:Allah yang baik pada semua orang (ay 35)
“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan; maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterimakasih dan terhadap orang-orang jahat”
Yesus menjelaskan dasar dari tindakan kasih dan perbuatan baik itu adalah Allah yang baik pada semua orang. Proaksi kasih tanpa mengharapkan balasan dari orang lain bukanlah suatu perbuatan yang sia-sia melainkan suatu perbuatan yang berguna untuk membangun kehidupan menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi. Sekaitan dengan itu, dapat dimengerti bahwa dasar dari perbuatan proaksi kasih itu adalah Allah Yang Mahatinggi yang berbuat baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterimakasih dan terhadap orang-orang jahat. Hakekat diri Allah itu sendirilah yang menjadi pondasi kehidupan anak-anak Allah. Sifat dan karakter Allah yang Mahatinggi itu menjadi sifat dan karakter anak-anak Allah yang Mahatinggi itu pula. Allah yang berbuat baik kepada semua orang termasuk bagi mereka yang tidak tahu berterimakasih dan berbuat jahat, juga menjadi cara hidup anak-anak Allah yang Mahatinggi.
Inilah juga yang menghantar pemahaman pada akhir perikope ini yang sekaligus menjadi tema pada pertemuan kita pada sabat siang ini:
“Hendaklah kamu murah hati,
sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

· Membangun Jati diri Murah Hati
1. Ungkapan ‘hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati’ mempunyai makna dan nilai yang sama dengan kesimpulan Injil Matius dalam istilah yang berbeda: “Karena itu haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang disorga adalah sempurna” (Mat 5:48). Asli dari pengertian statement ini kemungkinan didasarkan pada Ul 19:7: “Kuduslah kamu sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.” Kalau Lukas menambahkan kata seperti; sesuai dengan; karena; ketika; sebagaimana. Uraian Lukas tidak hanya bermakna meneladani tetapi lebih dari pada itu adalah ‘sama seperti’ (Yoh 10:15; 15:4). Kata murah hati ini juga dipakai untuk the golden rulepada ay 31 yang menekankan makna ‘sama seperti’ bukan imitasi.
2. Pernyataan Yesus ‘hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati’, pertama-tama menekankan apa dan bagaimana hidup para pengikutnya, ‘Hendaklah kamu murah hati’. Istilah kamu menjadi sangat penting dalam statement tersebut menunjuk kepada para pengikut Yesus. Jati diri murah hati dalam setiap orang bersatu di dalam persekutuan menjadi jati diri persekutuan. Perbedaan status ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dll terjalin menjadi satu kesatuan di dalam mentalitas jati diri murah hati. Khususnya bagi para umat Tuhan yang mempunyai tempat pelayanan yang berbeda sebagai penungusaha, manager, Dosen atau Karyawaan dapat dilakukan sebagai pembagian tugas pelayanan yang berbeda bukan sebagai pembedaan status kehormatan atau tingkatan apabila ‘jati diri murah hati’ di miliki setiap para umat Tuhan sebagai pengikut Yesus Kristus. Lebih lanjut, jati diri murah hati yang dimiliki seluruh para umat Tuhan akan mengalir di semua aras pelayanan para umat Tuhan yang membangun jati diri para umat Tuhan yang murah hati yang seterusnya mengalir ke tengah-tengah hidup masyarakat.
3. Membangun jati diri ‘murah hati’ atau ‘belas kasih’ bukanlah pertama-tama untuk kepentingan orang lain meskipun dampaknya terjadi pada mereka juga. Murah hati bukanlah reaksi terhadap keadaan kemiskinan atau penderitaan yang dialami orang lain, hal seperti ini lebih bernuansa karitatif. Tetapi sebaliknya, murah hati adalah jati diri yang secara otomatis merespons segala keadaan dengan baik termasuk manakala terjadi penderitaan, hal ini lebih bernuansa responsif. Dengan kata lain ‘murah hati atau belas kasih’ tidak terbatas pada menolong orang lemah sebagai objek, tetapi murah hati adalah identitas dan jati diri kemanusiaan yang utuh yang teraktualisasi pada semua orang dan dalam semua keadaan.
4. Dapatkah manusia menjadi murah hati sama seperti Allah yang murah hati? Menjadi murah hati bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan oleh manusia. Lebih tegas murah hati itu bukanlah hakekat manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Hukum pembalasan seperti mata ganti mata, gigi ganti gigi telah merasuki umat manusia (Mat 5:38; Kel 21:24; Im 24:20; Ul 19:21), bahkan telah menjadi sifat manusia berdosa. Diperlukan perobahan total dalam diri manusia untuk mendapatkan kehidupan yang murah hati. Perobahan itu hanya dapat terjadi dengan transformasi sorgawi ke dalam diri manusia.
II. Murah Hati dalam Kemanusiaan yang Utuh
Perikope ini diawali dengan inti pengajaran Yesus yang juga menjadi inti dari keseluruhan hidup beriman, yaitu “kasih”: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu”. Ini adalah salah satu penjabaran dari Hukum Utama yang ditekankan oleh Yesus, yaitu:
“Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekeuatanmu dan dengan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Luk 10:27 bnd Mat 22:37-39; Mrk 10).
Dalam pemaparannya, Injil Lukas memposisikan hukum ini dalam aksi belaskasihan berhadapan langsung dengan orang yang menderita (10:25-37). Bukti nyata dari penerimaan dan penghayatan akan hukum Tuhan dapat terlihat dari aksi dan perbuatan terhadap sesama manusia, khususnya bagi mereka yang mengalami keadaan sulit dan susah. Lebih spesifik pada mereka yang tidak dapat lagi mengatasi permasalahan yang dihadapinya sendiri. Perbuatan baik orang Samaria yang murah hati terjadi didorong motivasi intrinstik (dari dalam hati, roha parbagasan {batak toba}) yaitu ‘tergeraklah hatinya oleh belas kasihan’ (ay 33, 37). Pertolongan terhadap orang yang menderita itu terjadi sebagai respons yang di dasarkan pada tergeraknya hatinya oleh belas kasihan. Artinya dia datang dari jati dirinya yang murah hati. Murah hati menjadi kekuatan penggerak bagi manusia untuk melakukan sesuatu. Tindakan dan perbuatan itu sendiri adalah tindakan dan perbuatan yang sangat manusiawi. Yesus menekankan bahwa membaca dan mengetahui Firman Tuhan sebagaimana telah dilakukan orang Farisi (Luk 10:26) haruslah ditindaklanjuti dengan melakukannya (ay 28, 37) agar Firman itu menjadi milik sendiri.

Note:… Ada enam tahapan untuk hidup dalam Firman Tuhan. Dengan mendengar Firman Tuhan (Mat 4:23; Rom 10:17), informasi dapat diketahui. Dengan membacanya (Wahyu 1:3; Luk 22:44-45) keinginan untuk mengetahui lebih luas digerakkan (Why 1:3). Dengan memperdalamnya (Kis 17:11), makna dan kebenaran di dalamnya dapat dipahami. Dengan menghafalnya (Mzm 119:9,11; 1 Ptr 3:15; Ul 6:6), signal dapat dikeluarkan pada saat diperlukan (1 Ptr 3:15 band Mat 4:1-11). Dengan memeditasikannya, Firman itu berdiam dan berkuasa di dalam hati kita. (Ulangan 6:6; Mzm 119:11). Lebih dari pada itu, dengan melakukannya, kita membuat Firman itu menjadi milik kita sendiri (Joh 1:14; bnd Mat 7:24)
Dalam uraian selanjutnya akan dipaparkan lebih dalam tentang manusia yang mengasihi Allah dan sesama manusia itu sendiri. Pemahaman tentang kasih tidak akan banyak diuraikan dengan assumsi bahwa “kasih” telah banyak dipahami dan dimengerti sebagai hal yang terutama dalam kehidupan orang percaya. Dalam makalah ini akan diuraikan pemahaman tentang siapakah manusia itu dalam hukum kasih yang diformulasi dari Ul 6:5 dan Im 19:18. Hal ini untuk memantapkan hakekat atau jati diri orang percaya dalam memahami dirinya sebagai manusia yang ‘murah hati’ (Luk 6:36), yang diekspressikan dalam kemanusiaan yang utuh (Luk 6:31).
Dalam hukum kasih ada 4 unsur dalam diri manusia, yaitu:
a. Hati berhubungan dengan personality, character, kepribadian, keadaan emosi, keinginan, perhatian. Dalam ilmu psikology dan management modern dikenal dengan istilah Emotional Quotient (EQ) – Kecerdasan Emosional.
1. Hati sebagai tempat berdiamnya perasaan, emosi dan keinginan –Note Hal-hal ini dapat digambarkan dengan berbagai expressi seperti: sukacita, Kis 2:26, Yoh 16:22 (Yesaya 66:14); dukacita, Yoh 16:6; gelisah, Yoh 14:1, 27; sedih, Rom 9:2, 2 Kor 2:4; terharu, Kis 2:37; tertusuk, Kis 7:54; hancur, Kis 21:13; kasih (di dalam, terbuka), 2 Kor 6:11; 7:3; Flp 1:7; keinginan, Rom 10:1; bekobar-kobar Luk 24:32; berhubungan dengan Allah, hati-Ku, – kehendak-Ku (Kis 13:22)
2. Hati sebagai tempat dari pengertian, sumber dari pengetahuan dan refleksi, niat
3. Hati adalah tempat dari penyelesaian (resolves) – Note…Hal ini berhubungan dengan: kerelaan hati (2 Kor 9:7); direncanakan dalam hati, 1 Kor 4:5; yakin, ketetapan dalam hatinya (1 Kor 7:37; Luk 21:14); menghibur hatimu (Kol 4:8; Ef 6:22); rencana dalam hati (Yoh 13:2); tempat rahasia (1 Kor 14:25); bodoh dan gelap (Rom 1:21); keras hati (Rom 2:5).
4. Hati menjadi pusat kehidupan manusia dimana Allah datang, sehingga menjadi pusat keagamaan yang memimpin moral seseorang – Note…Lihat, Allah mengetahui hatimu (Luk 16:15); Ku lihat bahwa hatimu (Kis 8:23); Allah yang menguji hati (1 Tes 2:4); Allah menyuruh RohNya ke dalam hati (Gal 4:6; 2 Kor 1:22); Kasih Allah dicurahkan dalam hati (Rom 5:5); Kristus diam di hati (Ef 3:17); Menuliskan hukum dalam hati (Ibr 8:10; bnd 10:16; Rom 2:15; Menyimpan Firman dalam hati (Luk 8:15; Mat 13:19); Ditulis dalam hati (2 Kor 3:3); Terang dalam hati (2 Kor 4:6; Ef 1:18; Membuka hati untuk memperhatikan (Kis 16:14); Suci hati dapat melihat Allah (Mat 5:8).
5. Hati juga sering dimengerti sebagai keseluruhan dari unsur dalam (inner life) dari manusia berhadapan dengan unsur luar.
b. Jiwa atau nyawa berhubungan dengan Roh. Dalam kitab Kejadian disebut bahwa Allah menghembuskan nafas hidup sehingga manusia menjadi makhluk hidup (Kej 2:7). Jiwa sering di mengerti sebagai unsur sorgawi (ilahi) dalam diri manusia. Dalam ilmu psikology dan management modern dikenal dengan istilah Spirituality Quotient (SQ) – Kecerdasan Spiritual.
1. Jiwa dalam PB adalah hidup atau nyawa, dimana jiwanya masih berada di dalam dirinya (Kis 20:10; 27:22). Jiwa juga dipakai untuk mengatakan manusia secara utuh (Mat 11:29, bnd. Yes 6:16). Paulus memakainya 6 kali dalam arti hidup atau nyawa (Rm 11:3; 16:4; 1 Kor 15:45; 2 Kor 1:23; Flp 2:30; 1 Tes 2:8). Juga dimengerti sebagai kejiwaan dalam arti keinginan (Ef 6:6; Flp 1:27; Kol 3:23) dan perasaan (1 Tes 5:23).
2. Jiwa sebagai tempat emosi, perasaan (feeling). Jiwa dapat dipengaruhi oleh orang lain (Kis 14:2, memanaskan hati; 15:24, menggoyahkan hati). Jiwa dapat Sebagai pengalaman sukacita, kesedihan, kasih, (Luk 1:46; Luk 12:19; Mrk 14:34). Jiwa menggambarkan hidup seseorang sekaligus juga mengungkapkan emosi dan perasaan, sukacita, kesedihan dan juga dalam memuliakan Tuhan dan mengasihi-Nya.
c. Akal budi (dianoia) berhubungan dengan pengertian, pemikiran, intellectual. Dalam Ilmu management modern dikenal dengan istilah Inteligency Quotient (IQ) – Kecerdasan Intellektual. Kata dianoia dimengerti sebagai: fungsi kekuatan otak, aktifitas berfikir, kekuatan dari pemikiran, pengertian, kemampuan untuk kesadaran, jalan pemahaman. Hasil dari pikiran adalah seperti ide, opini, penilaian. Berhubungan dengan keinginan tujuan, penyelesaian, maksud, isi juga signifikasi
Note: Pemakaian dianoia dalam PB berhubungan dengan ‘pengertian’ dan ‘pemikian’ (Ef 2:3; 4:18; Kol 1:21; 1 Ptr 1:13; 2 Ptr 3:1, kususnya pemikiran yang berhubungan dengan moralitas). Dalam 1 Joh 5:20, dianoia berhubungan dengan pengetahuan dimana Allah memberikan dianoia kepada manusia untuk dapat mengenal Yang Benar. Pergantian dalam kata dianoia dan kardiva dalam Ibrani 8:10 “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka, dan menuliskannya dalam hati mereka” dengan 10:16 “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka”, memperlihatkan bahwa keduanya adalah synonim yang berhubungan dengan pusat kehidupan internal manusia. Diavnoia sebagai pusat pemikiran dan pertimbangan manusia yang sangat mempengaruhi dalam moralitasnya.
d. Kekuatan berhubungan dengan kemampuan, kekuatan, tenaga, keberanian, kesanggupan dan kebolehan physik. Dalam ilmu psikology dikenal dengan istilah Psychomotorik Quotient, Kecerdasan Phisik. Kata ini juga dimengerti berhubungan dengan kesehatan. Selebihnya dimengerti untuk keahlian, kemampuan mengatasi sesuatu.
Note: Kekuatan artinya kemampuan (Luk 6:48; 8:43; 13:24); keberanian (Mat 8:28); kesanggupan (Mt 26:40); berpengaruh/berguna (Mat 5:13); berkuasa (Kis 19:20, untuk Firman Tuhan); bekerja (Gal 5:6). Kekuatan manusia atau sesuatu (Luk 15:14; 1 Kor 4:10; 10:22; 2 Kor 10:10). Dalam 1 Yoh 2:14 anak-anak muda disebut kuat karena Firman Allah diam di dalam mereka. Kesanggupan Sebagai kekuatan atau kemampuan manusia untuk melakukan sesuatu terutama yang berhubungan dengan tindakan fisik.
Keempat unsur manusia: hati, jiwa, akal budi dan kekuatan bukanlah unsur manusia yang terpisah-pisah, melainkan unsur manusia yang utuh. Sering juga terjadi dengan menyebut salah satu menunjuk pada keseluruhan. Keutuhan keempat unsur inilah yang harus digunakan dengan segenap, penuh dan utuh untuk mengasihi Allah. Keempat unsur tersebut jelas sekali ditempatkan secara sejajar tanpa melihat salah satu yang lebih penting. Hal ini memperlihatkan keseluruhan manusia itu harus dengan segenap atau seutuhnya mengasihi Allah. “Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Mrk 7:6-8). Memuliakan Allah secara physik dengan hati yang menjauh dari Allah, dengan keras disebut sebagai munafik. Maka “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu” (Mrk Luk 10:27a) memperlihatkan bahwa mengasihi Allah haruslah dengan kemanusiaan yang utuh.
Realitas hubungan manusia dengan Allah dalam ungkapan kasih itu juga mempunyai dimensi hubungan terhadap sesama manusia, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Luk 10:27b). Dalam implementasi hukum yang kedua ini pemahamaan seperti diri sendiri ditonjolkan tanpa sebuah penjelasan apakah yang dimaksud dengan diri sendiri. Dalam kaitan itu haruslah dilihat hubungannya dengan hukum yang pertama. Keempat unsur manusia sebagai uraian manusia yang utuh, yang mengasihi Allah tersebut juga berlaku bagi mengasihi sesama manusia. Maka dapat dirumuskan pengertiannya sbb: “kasihilah sesamamu manusia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Diri sendiri adalah manusia yang terdiri dari unsur “hati, jiwa, akal budi dan kekuatan”. Kasih itu menjadi sesuatu yang lengkap dalam kemanusiaan yang utuh yang implementasinya dinyatakan kepada Allah dan manusia (1 Yoh 4:20-21).
Hendaklah kamu murah hati adalah suatu perintah yang harus dihayati dalam kemanusiaan yang utuh. Kemurahan hati atau belas kasih bukanlah sekedar tindakan physik menolong orang yang menderita tetapi merupakan pembangunan diri dalam kemanusiaan yang utuh. Itulah sebabnya ‘murah hati’ itu dikaitkan dengan implementasinya dalam respons pada manusia, dalam hal ini orang-orang berdosa seperti musuhmu (orangnya), orang yang membenci kamu, orang yang mencaci kamu, barangsiapa (orangnya), setiap orang, orang yang mengambil kepunyaanmu.

III. Murah Hati sebagai Transformasi Hakekat Sorgawi
Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati. Dapatkah manusia sama seperti Allah menjadi “murah hati”? Bagaimanakah caranya untuk bisa menjadi murah hati sama seperti Allah murah hati? Kata penghubung seperti adalah kunci utama dalam teologia Lukas untuk ‘murah hati’. Makna kata ini bukan pada ‘meniru atau mencontoh’ tetapi ‘berdasarkan, sesuai dengan atau karena’. Manusia yang murah hati tidak pernah ada tanpa Allah yang murah hati. Dengan kata lain, ke-‘murah hatian’ Allah diberikan kepada manusia. Dan manusia yang menerimanya memperoleh ‘murah hati’nya Allah. ‘Murah hati’nya Allah ditransformasikan ke dalam diri manusia, sehingga manusia menjadi murah hati. Dapat dipahami bahwa ‘murah hati’nya Allah sendirilah yang membuat manusia itu menjadi murah hati. Dengan kata lain, tidak ada manusia yang murah hati dari dirinya sendiri. Allah yang hakekatnya murah hati berkenan memberikan ‘murah hati’Nya menjadi hakekat manusia.
Pemahaman ini dapat lebih dimengerti dengan meminjam pemaparan teolog Yohanes dalam
Yoh 15:4-5 :“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti (kathōs) ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku, Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”
Rating (kamu) akan berbuah kalau tinggal di dalam pokok (Aku). Pada dasarnya buah ranting bukanlah buah dirinya tetapi buah pokoknya. Dengan kata lain dapat dimengerti bahwa pokok berbuah di dalam dan melalui ranting. Sesungguhnya yang berbuah adalah pokok tetapi kemudian juga menjadi buah ranting. Analogy ini dapat dipakai untuk memahami konsep ‘murah hati’. Manusia tidak dapat bermurah hati dari dirinya sendiri, tetapi Allah yang ‘murah hati’ di dalam dan melalui diri manusia. ‘Murah hati’-nya Allah di tansformasikan ke dalam dan melalui pengikut Yesus. Dari dirinya sendiri manusia sebagai manusia berdosa tidak berkesanggupan untuk bermurah hati. Murah hati dapat terjadi apabila hakekat sorgawi (ilahi) di transformasikan menjadi hakekat membumi (manusiawi).
Manusia dari dirinya telah gagal melaksanakan fungsi kemurahan hati yang didasarkan pada pelaksanaan hukum Taurat dan tradisi Yahudi (Mat 5:38, Kel 21:24). Kehadiran Tuhan Yesus mengubah atau mengembalikan hakekat manusia yang utuh pada fungsinya yang sebenarnya. Kehadiran Yesus adalah bukti nyata dari Allah yang murah hati (Yoh 3:16), itulah sebabnya Allah sendiri menjadi manusia. Dengan kata lain Yesus sendirilah yang sanggup melakukan kemurahan hati (belas kasihan) dalam seluruh perjalanan kehidupannya. Telah disebut di awal bahwa manusia dari dirinya sendiri tidak dapat bermurah hati. Hanya ada satu jalan untuk bisa menjadi manusia yang “murah hati” yaitu menjadi satu dengan Yesus Kristus sebagai wujud nyata Allah yang murah hati. Paulus membahasakannya dengan bahasa manusiawi pada Gal 2:20 “Namun aku hidup bukan aku sendiri lagi yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku”
Umat Tuhan dapat melakukan hal-hal sorgawi (a.l. murah hati), manakala dia menyatu dengan Yesus Kristus atau Yesus Kristus ada di dalam dirinya. Dengan kata lain, menjadi murah hati hanya dapat terjadi jikalau Allah yang murah hati berdiam dalam diri umat TUHAN. Lebih tegas manusia dari dirinya tidak akan pernah menjadi manusia yang murah hati. Tetapi Allah yang murah hati berdiam dalam diri manusia membuat manusia itu menjadi murah hati.
Catatan penutup
Ø Murah hati adalah hakekat Allah sendiri. Manusia dapat menjadi ‘murah hati’ karena Allah memberikan ‘murah hati’nya pada manusia sehingga manusia menjadi ‘murah hati’. Murah hati atau belas kasih adalah jati diri dari kemanusiaan yang utuh sebagai wujud nyata dari hukum kasih. Murah hati sebagai jati diri umat TUHAN di implementasikan dalam kemanusiaan yang utuh pula. Jati diri ‘murah hati’ menjadi motor penggerak (motivasi) untuk merespons sesama manusia dalam segala tindakan dan perbuatannya. Kekuatan manusia yang murah hati dapat terlihat dari kemampuannya untuk mengasihi orang yang memusuhinya, mendoakan orang yang mengutukinya, menyadarkan orang yang menamparnya, menyadarkan orang yang mengambil jubahnya, memberi orang yang meminta padanya, menolong orang yang mengambil kepunyaanya. Orientasi implementasi ‘murah hati’ adalah manusianya bukan tindakan atau perbuatannya.
Ø Upaya pertama dan terutama yang harus dilakukan adalah membangun jati diri kita sendiri yang murah hati yang mengalir kepada warga jemaat menjadi murah hati sehingga masyarakat diubah menjadi murah hati. Mentalitas, sikap hidup, pergerakan hidup dimotivasi dan didominasi oleh identitas atau jati diri murah hati. Persoalan-persoalan yang ditimbulkan perbedaan status atau penempatan menjadi ringan untuk diatasi ketika para pendeta mempunyai jati diri murah hati. Pada saat yang sama kita memberi ruang di dalam diri kita bagi Allah untuk mewujudkan kemurahan hatiNya melalui kita bagi umat yang kita layani dan seterusnya bagi masyarakat.
Ø Wujud nyata dari kemurahan hati dalam pekerjaan diakonia, hendaknya tidak dilihat sebagai upaya untuk menolong mereka yang menderita saja. Sebaliknya pekerjaan diakonia haruslah dilakukan dalam rangka mengimplementasikan identitas murah hati yang membangun hubungan yang baik dengan TUHAN. Pekerjaan diakonia bukan reaksi terhadap situasi tetapi proaksi dari murah hati. Perbuatan-perbuatan diakonia adalah kepentingan orang yang menolong untuk membangun jati dirinya. Dengan kata lain, pekerjaan diakonia dilakukan untuk memberi ruang bagi Allah mewujudkan kemurahanNya melalui orang percaya.
Ø Pada suatu diskusi tentang kemurahan hati, setelah mendengar pentingnya bermurah hati untuk membangun masyarakat damai sejahtera, seseorang berkata: Binoto do mansai porlu marasi ni roha, alai boha ma bahenon ai jolma dope iba (terj bebas: Saya tahu bahwa bermurah hati itu penting, namun bagaimana bisa melakukan itu sebab saya ini masih manusia). Secara seloroh pembicara berkata: jadi ingkon muba ma hita gabe pidong asa boi marasi ni roha”? (terj bebas: apakah kita harus berobah dulu menjadi burung supaya bisa berbelas kasihan?). Manusia tidak harus berobah menjadi domba atau sekuntum bunga atau menjadi malaikat untuk bisa menjadi murah hati. Yesus tahu bahwa manusia (pengikutNya) dapat dan sanggup menjadi murah hati sehingga Dia memerintahkannya. Kalau pengikut Yesus menyadari bahwa dari dalam diri kita, kita tidak dapat dan tidak sanggup melakukannya maka satu hal yang harus dilakukan ialah “Tinggallah di dalam Yesus” sehingga Tuhan Yesus sendirilah yang membuat “murah hati” itu terjadi dalam kehidupan kita. Allah Bapa yang murah hati, bermurah hati kepada kita, di dalam kita dan melalui kita. Dia yang murah hati membuat kita menjadi “pendeta yang murah hati”. Bersyukurlah dan jadilah orang yang memiliki Jati Diri Murah Hati.

Posted in: Uncategorized